|
Dunia Malam Jawa Timur Diincar 29 'Hantu' AIDS
17-03-07 04:14 |
|
Para pria pecandu 'cinta sesaat" di Jawa Timur, mungkin sudah saatnya meninggalkan kebiasaan buruknya. Pasalnya nasib kesehatan dirinya dan pasangannya bagi yang sudah menikah, pada saat ini tengah di ujung tandung. Mereka memiliki peluang besar untuk terserang virus HIV/ AIDs. Ini karena sebanyak 29 orang PSK pengidap virus mematikan asal lokalisasi Puger di Jember, saat ini telah melarikan diri dan tak dapat terkontrol arahnya.
"Dengan larinya para PSK pengidap virus HIV/ AIDs itu di atas kertas kesehatan masyarakat, khususnya yang pasangannya hobi "jajan" saat ini tengah terancam. Kesehatan keluarga mereka berpeluang terinveksi virus mematikan ini," kata Heni Sukartiningsih, Program Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), seperti dikutip beberapa media nasional dan lokal terbitan Surabaya. Menurut ia, para PSK pembawa virus HIV/ AID itu kabur setelah kepastian penutupan lokalisasi Puger tinggal tunggu waktu, 1 April 2007. Dari 29 PSK yang kabur sebanyak 25 orang merupakan hasil pendataan pengidap virus HIV pada tahun 2006. Ironisnya sebelum data itu ditindaklanjuti KPA, ternyata para PSK itu sudah kabur. Kaburnya para PSK ini, dikatakan, seharusnya tidak perlu terjadi seandainya KPA sejak awal dilibatkan dalam rencana penutupan lokalisasi Puger. "Jika KPA terlibat, tim VCT (Voluntary Councelling Test) bisa melakukan antisipasi sebelum para PSK tersebut dipulangkan. Sehingga saat kembali ke daerah masing-masing, para penderita HIV/ AIDs itu tetap terpantau," ujarnya. Dengan kaburnya 29 PSK tersebut dikhawatirkan KPA akan memperpanjang daftar nama pengidap HIV/AIDS. Sebab banyal diantara para PSK itu belum menyadari akan kondisi mereka sebagai pembawa virus mematikan. "Padahal dalam sehari saja, para PSK itu bisa menyebarkan virus HIV/ AIDS pada sejumlah pria yang dilayani. Jika semalam rata-rata mereka melayani empat pria hidung belang, maka jumlah penderita AIDs di Jatim sudah bertambah 116 penderita. Jumlah itu akan terus bertambah sampai 29 PSK itu sadar akan kondisi kesehatannya dan berhenti praktik," katanya. Namun berhentinya 29 PSK itu berpraktik, dikatakan, bukan berarti menghentikan jumlah penderita virus HIV/ AIDs yang tertular. Sebab para pria yang mereka tulari akan berganti sebagai medium penyebar virus, baik pada para PSK yang dikencani atau kah para pasangan resmi mereka di rumah. Juga, bukan tidak mungkin pada anak-anak mereka lewat medium penularan lainnya. Belajar dari kaburnya para PSK pengidap HIV/AIDS itu, Pemkab Jember memutuskan melibatkan KPA. Sukartiningsih mengakui, keterlibatan tim VCT dan KPA terhitung terlambat. Namun, KPA tetap akan melakukan pendampingan terhadap para PSK yang masih ada. Konseling dilakukan hingga mereka secara sadar mau memeriksakan diri kepada tim VCT. | ||||||
|
||||||